Senin, 19 Oktober 2020

Menyampaikan Hasil Suntingan dengan Memperhatikan Struktur dan Kebahasaan


Penyuntingan bertujuan untuk menyempurnakan atau untuk mengurangi kekeliruan-kekeliruan yang mungkin terjadi dalam suatu teks.

Kegiatan penyuntingan dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut.

  1. Penyiapan teks (ceramah) yang akan disunting.
  2. Penyediaan bahan-bahan pemandu penyuntingan, seperti pedoman Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) dan kamus. Selain itu, bahan-bahan tersebut harus disesuaikan dengan karangan yang akan disunting. Kalau itu berupa naskah ceramah, bahan pemandunya adalah buku tentang teknik penulisan ceramah.
  3. Mencermati bahan suntingan secara cermat, baik itu berkenaan dengan cara penyajian isi maupun bahasanya.
  4. Memperbaiki kesalahan yang terdapat dalam bahan suntingan secara benar dengan berpedoman pada sumber-sumber yang dapat dipercaya.

Penyuntingan dalam naskah pidato berkaitan dengan tiga hal, yaitu :

1. Bahasa

Penyuntingan bahasa mengandung beberapa aspek. Yaitu aspek EYD, tata bahasa (formal), diksi yang digunakan, tata bahasa, dan struktur kalimat.

2. Isi

Penyuntingan isi biasanya memperhatikan dua hal, seperti ; urutan penyajian (sesuai tidaknya dengan naskah pidato secara umum) dan kelengkapan isi. Naskah pidato perlu disunting pada bagian isi agar isi dalam pidato tidak bertele-tele.

3. Penalaran

Pidato perlu disunting pada bagian penalaran, agar maksud pidato dapat diterima jelas oleh pendengar.


Simak contoh teks pidato yang belum disunting berikut ini.

Hadirin yang berbahagia,
Marilah kita bersyukur keharidat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya kita bisa berkumpul pada pagiyang cerah ini. Kita harus beryukur karena masih bisa menghirup udara kemerdekaan dan masih bisa bersama-sama kita berkumpul untuk memperingati hari pendidikan nasional.


Dulu, masyarakat kita dijajah dan tidak diberikan hak pendidikan yang layak. Dengan adanya kemerdekaan, kita mendapatkan hak pendidikan yang layak melalui program wajib sekolah dan program pendidikan gratis dari pemerintah. Sekiranya pahlawan kita tidak berjuang, tentu kita tidak akan mendapatkan kemerdekaan tersebut.


Marilah kita maknai hari pendidikan nasional ini sebagai moment untuk meningkatkan pendidikan masyarakat di segala bidang.

Teks pidato di atas perlu diperbaiki. Kesalahan yang ada adalah penulisan keharidat seharusnya ke hadirat, rahmatnya seharusnya rahmat-Nya, pagiyang seharusnya pagi yang, hari pendidikan nasional seharusnya hari Pendidikan Nasional.


Dalam hal penulisan kalimat, teks pidato di atas memiliki kalimat yang tidak efektif.


Dalam hal kepaduan paragraf, pada paragraf 2 teks tersebut memiliki kalimat yang tidak padu.


Perhatikan teks pidato yang sudah disunting sebagai berikut.

Hadirin yang berbahagia,
Pada pagi yang cerah ini, marilah kita bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas segala rahmat-Nya, kita bisa berkumpul untuk memperingati hari Pendidikan Nasional.


Dulu, masyarakat kita dijajah dan tidak diberikan hak pendidikan yang layak. Dengan adanya kemerdekaan, kita mendapatkan hak pendidikan yang layak melalui program wajib sekolah dan program pendidikan gratis dari pemerintah.


Oleh sebab itu, marilah kita maknai hari Pendidikan Nasional ini sebagai moment untuk meningkatkan pendidikan masyarakat di segala bidang.


- Poin Penting

Menyunting naskah pidato berarti memperbaiki naskah pidato dalam segi kebahasaan dan isi.


Keterampilan menyunting naskah pidato membutuhkan pengetahuan tentang stuktur pidato, kalimat efektif, kepaduan paragraf, dan eyd. Selain itu, perlu juga kepekaan terhadap isu SARA dan hal sensitif lainnya.

Rabu, 07 Oktober 2020

Menganalisis Struktur dan Kebahasaan Teks Anekdot

Menganalisis Struktur dan Kebahasaan Teks Anekdot

Gambar ilustrasi 

Dikutip dari : 

https://www.skokul.com/2298/menganalisis-struktur-dan-kebahasaan-teks-anekdot/

Anekdot adalah cerita singkat yang menarik karena lucu dan mengesankan yang berisi kritikan. Kritikan tersebut bisa berupa permasalahan yang berkaitan dengan layanan publik atau orang-orang terkenal.

Kegiatan 1
Mengidentifikasi Struktur Teks Anekdot.

Anekdot memiliki pesan moral, unsur lucu, dan memiliki struktur yakni abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda.

Struktur Isi dalam Teks Anekdot, yakni:

1. Abstraksi berupa cerita pembuka yang akan menggambarkan awal cerita.

2. Orientasi yaitu peninjauan yang menggambarkan situasi awal cerita. Orientasi akan membangun konteks pembaca terhadap suatu cerita.

3. Krisis yaitu bagian cerita yang menggambarkan keadaan yang genting atau terjadinya

4. konflik yang dialami oleh tokoh.

5. Reaksi yaitu tanggapan tokoh terhadap konflik yang muncul.

6. Koda yaitu penutup cerita atau keadaan akhir cerita.

Contoh :

Aksi Maling Tertangkap CCTV dari bentuk dialog ke dalam bentuk narasi

Seorang warga melapor kemalingan.

Pelapor : “Pak saya kemalingan.”
Polisi : “Kemalingan apa?”
Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung Pak…”

Polisi : “Kemalingan kok beruntung?”
Pelapor : “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV merekam dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas wajah malingnya.”
Polisi : “Sudah minta izin malingnya untuk merekam?”

Pelapor : “Belum …. “ (sambil menatap polisi dengan penuh keheranan.
Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”

Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya).

Bacalah anekdot berikut di atas, kemudian pelajarilah cara menganalisis struktur anekdot.


Struktur Isi dalam Teks Anekdot di atas adalah:

1. Struktur abstraksi
Seorang warga melapor kemalingan.

2. Struktur orientasi
Pelapor : “Pak saya kemalingan.”
Polisi : “Kemalingan apa?”
Pelapor : “Mobil, Pak. Tapi saya beruntung Pak…”

3. Struktur krisis
Polisi : “Kemalingan kok beruntung?”
Pelapor : “Iya pak. Saya beruntung karena CCTV merekam dengan jelas. Saya bisa melihat dengan jelas wajah malingnya.”
Polisi : “Sudah minta izin malingnya untuk merekam?”

4. Struktur reaksi

Pelapor : “Belum …. “ (sambil menatap polisi dengan penuh keheranan.
Polisi : “Itu ilegal. Anda saya tangkap.”

5. Struktur koda
Pelapor : (hanya bisa pasrah tak berdaya).

Senin, 05 Oktober 2020

MENYUSUN BAGIAN-BAGIAN PENTING DARI PERMASALAHAN AKTUAL DALAM BERPIDATO

Budayakan Bermasker di Era Pandemi

Sahabat siswa, ketika kita mengenakan masker berarti kita berdamai dengan kehidupan. Mengapa? Karena di era pendemi Corona, manusia tak saja dituntut mengubah cara hidup tapi juga hakekat hidup.

Secara metoforis, hakekat hidup adalah berjalan, melangkah dan menggapai tak hanya dengan tenaga, tapi juga dengan tawakal dan doa. Di masa ketika semua orang mencemaskan banyak hal, wabah penyakit, harapan-harapan patah, bukankah hidup adalah tentang berjalan,
menghindar segala rintang atau mengalahkannya dengan segala daya.

Selagi hidup, yang kita perlukan adalah bijak menaruh kekhawatiran sebagai hal biasa, karena sejak lahir, musuh utama manusia sesungguhnya ketakutan, dan hal terburuk ketika kita takluk olehnya.

Sahabat siswa, sejak awal tahun 2020 ketika virus Corona mewabah, umat manusia di seluruh penjuru bumi kembali diserbu peradaban masker. Pandemi ini memaksa setiap orang tampil dengan gaya hidup baru yaitu gaya hidup bermasker. Tak ada lagi paras elok yang lepas bebas. Kecantikan dan ketampan kini tersembunyi di balik masker.

Masker sudah menjadi semacam “kebutuhan pokok”. Masker dibutuhkan oleh siapa saja, di mana saja. Masker tidak hanya digunakan oleh mereka yang melakukan aktifitas outdoor, tapi juga digunakan oleh mereka yang melakukan aktifitas indoor.

Masker kini tak sekadar gimik, tapi sebuah realitas tak tertolak. Dan, memaksa setiap orang di abad 21 tampil dengan gaya hidup yang baru yaitu gaya hidup di bumi bermasker.

Apabila engkau pernah melihat lukisan karya Michel Serre tentang wajah berlilitkan kain, Itulah bukti sejarah dari era Renaissance Eropa abad ke-16. Lukisan itu merekam kota Marseille, Prancis, yang menjadi pusat wabah pes bubo pada tahun 1720. Orang-orang terpaksa mengenakan kain di sekitar mulut dan hidung sebagaimana masker, sebagai cara menghindar tertular wabah Pes.

Sejak wabah Flu Spanyol di tahun 1918 melanda Amerika Serikat, masker telah dikenakan kalangan ilmuwan dan masyarakat. Perusahaan di seluruh dunia meningkatkan produksi masker untuk membantu mengurangi penyebaran flu.

Saat SARS mewabah pada 2002-2004, banyak orang Tiongkok yang mengenakan masker. Benda penyaring tersebut kian populer di masyarakat seiring memburuknya kualitas udara di kota-kota besar.

Sahabat siswa, dulu sebelum terjadi pandemi Covid-19 mungkin akan terlihat aneh jika dalam melakukan berbagai aktifitas orang-orang menggunakan masker. Tapi kini sebaliknya. Justeru akan terlihat aneh jika ada orang yang tidak menggunakan masker dalam melakukan aktifitas.

Di kantor-kantor, di tempat belanja, di jalan-jalan, dan dimana pun melakukan atifitas, sekarang semua orang wajib menggunakan masker. Terlepas dari apakah mereka menggunakan masker itu dengan kesadaran sendiri atau “terpaksa” karena ada aturan yang mengharuskan orang menggunakan masker.

Pandemi Covid-19 memang telah mengubah banyak hal dari kehidupan normal manusia. Mulai dari kebiasaan melakukan komunikasi, kebiasaan berinteraksi, kebiasaan dalam memelihara kesehatan, termasuk dalam kebiasaan menggunakan masker.

Pandemi Covid-19 telah mengubah kehidupan normal menjadi tidak normal dan mengubah kehidupan yang tidak normal menjadi kehidupan normal. Hal ini akan terus berlangsung selama pandemi Covid-19 belum berakhir.

Di kehidupan normal yang baru, mari kita budayakan memakai masker sebagai norma kehidupan yang harus kita lakukan saat ini.

Ketika menjalani aktivitas di luar rumah, jadikan masker sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di masa pandemi virus corona. Entah saat bekerja, ke pasar, ataupun menuju tempat ibadah; masker wajib dikenakan untuk melindungi diri dari droplets atau percikan air liur yang merupakan penyebab utama penularan Covid-19.

Sahabat siswa, ketika kita mengenakan masker berarti kita berdamai dengan kehidupan. Karena hidup itu sebuah pilihan: mengalah atau mengalahkan! Sekian, Terima Kasih. (*)

Penulis: Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com